Mengatasi Belanja Tanpa Rencana
Coba diingat-ingat. Terakhir kali anda pergi ke pasar. Tadinya sih hanya ingin membeli kebutuhan dapur saja. Tapi ketika pulang anda malah menenteng beberapa kantong plastic. Isinya pakaian, kosmetik, tas, hiasan dinding, dan kebutuhan dapur. Sampai di rumah anda bingung sendiri. Uang banyak terpakai. Sedangkan barang yang anda bawa pulang sebenarnya tidak perlu dibeli.
Kejadian seperti ini dinamakan impulse buying. ‘Impulse buying’ adalah kondisi yang memicu terjadinya pembelian yang tidak direncanakan dan tanpa pertimbangan yang matang. Pembelian seperti ini sering terjadi. Seketika memutuskan untuk membeli.
Hampir semua orang pernah melakukannya. Misalnya ketika pergi jalan-jalan ke mall. Sampai di depan dept store melihat baju-baju bagus dipajang ditambah tulisan diskon. Akhirnya masuk dan memborong baju. Atau pagi-pagi ke pasar ingin membeli sayur. Di pinggir jalan ada mobil penjual perabotan plastic serba Rp. 35.000. Sedang dikerumuni ibu-ibu. Akhirnya lapar mata dan ikut membeli. Padahal barang di rumah masih lengkap dan bagus.
Apa sih yang membuat orang melakukan impulse buying ? Kebanyakan impulse buying dapat terjadi karena :
Suka berbelanja
Ada orang yang memang suka berbelanja. Apa saja dibeli. Sepanjang ada duitnya. Atau bahkan berhutang. Orang seperti ini tidak peduli dengan perencanaan keuangan. Juga tidak disiplin. Ia akan merasa puas jika keluar dari toko atau mall dengan membawa banyak belanjaan.
Penampakan
Orang seketika membeli karena tertarik melihat barang yang dipajang di toko. Juga iklan online store di layar HP. Didukung adanya uang di dompet dan saldo rekening. Yang langsung berpindah tangan ke penjual.
Ikut-ikutan
Melihat orang berkerumun. Sambil pegang-pegang barang ini itu. Karena banyak yang membeli. Akhirnya ikut-ikutan membeli. Ketemu teman pakai aksesoris keren. Trus, kelihatan modis. Pengen ikutan keren. Lantas ikutan membeli. Padahal aksesoris di lemari masih banyak. Jarang dipakai juga.
Rayuan penjual
Pastilah namanya penjual ingin produknya laku. Segala rayuan dikeluarkan. Rayuan gombal sampai rayuan maut. Sebenarnya tidak mau beli karena belum perlu. Tapi mendengar kata-kata “ini kualitas bagus lo pak, masih bisa kurang koq bu, ibu makin cantik kalo pake ini”. Tidak berhenti sampai anda membeli. Dan memindahkan uang di dompet anda ke penjual.
Impulsive buying terjadi tidak hanya untuk produk-produk yang relatif murah (cokelat, baju, majalah) tetapi juga pembelian produk-produk relatif mahal (perhiasan, kendaraan, pekerjaan-pekerjaan seni).
Apa dampaknya bagi keuangan? Ya betul kebiasaan impulsive buying dapat menyebabkan permasalahan keuangan, seperti penolakan dari pasangan, perasaan bersalah karena membeli barang yang tidak terlalu berguna dan lain-lain.
Agar dompet tidak jebol tentu ada kita harus melakukan sesuatu. Solusi untuk Pembelian Impulsif sangat sederhana yaitu melakukan pendekatan dari keuangan dan pendekatan psikologi. Permasalahan seseorang yang gemar melakukan impulsive buying ada pada dirinya sendiri. Bukan salah pasangan, atau salah teman-temannya, apalagi salah penjual.
Melakukan Konseling Keuangan
Konseling keuangan adalah berkonsultasi kepada konselor keuangan untuk mendapat solusi yang tepat. Siapa yang bisa melakukannya? Anggota CU Bonaventura bisa melakukan konseling dengan manajemen yang sudah terlatih memberikan konseling.
Kita juga bisa meningkatkan kecerdasan keuangan dengan mengikuti Diklat Finansial Literasi. Dan yang paling penting adalah berusaha keras mengontrol pengeluaran dan disiplin pada diri sendiri.
Buat Anggaran Belanja
Anggaran belanja buat keluarga atau pribadi? Itu sudah kita pelajari dalam diklat-diklat CU Bonaventura ? Kegiatan membuat anggaran dapat dilakukan dengan sederhana.Ambil kertas, tulis sumber pendapatan dan pos-pos pengeluaran dalam satu bulan. Berikutnya anggarkan uang yang kita dapat ke dalam pos-pos pengeluaran tersebut.
Cara yang lebih mudah adalah menggunakan aplikasi yang bisa didownload di smartphone.
Buat Daftar Belanja Tetap
Setiap orang atau keluarga pasti memiliki daftar barang yang akan dibelanja setiap bulannya. Jangan biarkan daftar tersebut di kepala, tulis daftar-daftar tersebut. Cara buatnya simpel aja ambil kertas, buat daftar barang yang akan dibeli. Satu hal yang penting ketika sudah membuat daftar belanjaan adalah masukan daftar belanjaan tersebut di dompet. Hal ini diperlukan agar kita tidak lupa bawa daftar belanja tersebut ketika berbelanja.
Menyimpan uang secukupnya di dompet
Siapkan uang kas sesuai dengan kebutuhan. Misalnya jika anggaran yang kita buat adalah Rp.500.000 tiap minggu, sebaiknya uang yang kita pegang paling banyak Rp. 500.000. Ini adalah cara untuk mendisiplinkan diri sendiri terhadap gaya atau cara berbelanja.
Bagaimana ? Gampang kan caranya ?
Nah, kita sudah tau mengenai apa itu perilaku membeli yang impulsif. Membeli yang tidak terencana mungkin akan membuat kita puas namun belum tentu apa yang kita beli akan bermanfaat bagi kehidupan kita. Terlalu banyak membeli tanpa pertimbangan yang matang beresiko buruk pada kondisi keuangan kita, bukan? Yuk kita periksa lagi apakah selama ini kita sudah menjadi pembeli yang bijak?
0 Komentar
Tinggalkan Komentar